Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cara Mengurangi Pengeluaran Melalui Rasa Sakit

Cara Mengurangi Pengeluaran Melalui Rasa Sakit




Cerita ini dimulai pada tahun 2010 silam dimana saya sedang mengenyam bangku pendidikan tingkat tinggi di salah satu universitas swasta di Jakarta. Saya merantau ke ibukota, meninggalkan kampung halaman demi mengadu nasib dan kehidupan yang lebih baik. Saya yang dibesarkan dalam keluarga yang belum melek finansial dan anti asuransi, dipaksa untuk mengatur keuangan secara bijak dan disiplin agar bisa bertahan hidup di Jakarta.

Secara kalender, 1 bulan mengandung 30 hari. Namun hitungan tersebut tidak berlaku bagi saya yang mendapat kiriman uang dalam nominal yang tak pasti serta tanggal jatuh tempo yang tidak teratur. Terkadang 1 bulan bagi saya setara dengan 40 hari, karena uang kiriman dari kampung mengalami keterlambatan dan saya sama sekali tidak mendapatkan kompensasi apapun layaknya penerbangan yang mengalami delay. Pada masa kesusahan inilah saya percaya bahwa karakter saya sedang dibentuk.Saya yang pada waktu itu percaya bahwa ada growth dalam zona tidak nyaman, sehingga saya memaksa diri saya untuk hidup dalam ketidaknyamanan, seperti:

Menahan diri untuk tidak terlalu sering bepergian keluar kostan
Membawa botol minum dan menenggak air putih saat teman-teman yang lain meminum minuman rasa-rasa
Membawa nasi bungkus dari warteg ketika hendak bepergian dan berpuasa ketika diajak teman makan bareng di restoran atau warung makan yang harganya di relatif tinggi.
dan yang paling penting ialah meninggalkan kartu debit di kost-kostan.
Tidak ada yang spesial dari poin 1 hingga poin 3 di atas. Artikel ini akan membahas tentang Pain of Paying yang relevan dengan poin 4 dan mungkin sering terjadi di dalam keseharian kita.

Apa Itu Pain Of Paying?
Sesuai namanya, Pain of Paying merupakan rasa sakit atau perasaan beban yang mungkin timbul pada saat kita mengeluarkan uang. Hal ini mungkin terjadi saat kita yang merasa baik-baik saja ketika mengeluarkan uang sebesar RP. 35,000 untuk minuman Boba atau kopi yang sangat enak rasanya, sementara kita merasa beban dan kepahitan ketika kita mengeluarkan uang sebesar Rp. 15,000 untuk minuman Boba atau kopi yang rasanya asing di lidah.

Hal yang serupa terjadi ketika kita hendak membayar tagihan Spotify dengan nominal Rp. 50,000. Secara nominal, angka tersebut masih dalam rentang harga yang sanggup untuk dibayar. Namun somehow kita merasakan ‘rasa sakit’ dan ‘beban’ ketika hendak membayar tagihan tersebut karena kita sangat jarang sekali menggunakan layanan musik streaming yang bisa didengarkan di bervariasi gawai ini.

Well, ada harga ada kualitas, bukan?

Bagaimana bisa kita merasakan ‘rasa sakit’ ketika kita mengeluarkan sedikit uang untuk rasa yang asing? Mengapa kita tidak merasakan ‘rasa sakit’ ketika kita mengeluarkan uang dengan jumlah 2x lipat untuk rasa yang sudah familiar di lidah?

Perlu diingat bahwa kesamaan dari 2 contoh kasus di atas ialah kita sama – sama mengeluarkan uang dan Pain of Paying turut bekerja dalam pikiran kita yang menimbang apakah nominal tersebut layak dibayar atau tidak.Berdasarkan contoh kasus di atas, saya memanfaatkan Pain of Paying dengan meninggalkan kartu ATM di kost-kostan. Hal ini bertujuasn untuk meminimalisir niat gelap matasaya untuk melakukan tarik tunai maupun belanja menggunakan kartu debit secara mudah dan praktis.

Dengan meninggalkan kartu ATM di kost-kostan, akan memaksa saya merasakan hal ini:

Kesulitan ketika hendak melakukan checkout di warung atau perbelanjaan yang menerima pembayaran via mesin EDC
Mempertimbangkan kembali niat saya untuk melakukan tarik tunai via rekening.
Saat momen Pain of Paying terjadi, kita akan dihadapkan pada suatu momen dimana kita mempertimbangkan dan menghitung kembali konsekuensi yang akan terjadi saat kita ‘membayar sesuatu’. Dalam hal ini, saya hanya akan membawa uang dengan nominal yang sudah saya perhitungkan dan rencakan sebelumnya. Saya tidak akan bisa menghabiskan uang lebih dari nominal yang saya bawa, karena saya tidak membawa kartu ATM.

Dengan mengandalkan Pain of paying tersebut, berikut cara mengurangi pengeluaran melalui rasa sakit dan beban:Salah satu cara mengurangi pengeluaran dengan memanfaatkan Pain of Paying ialah dengan menyimpan Kartu Debit dan Kartu Kredit dalam tempat yang sulit dijangkau dan dilihat oleh mata.

Kata orang, manusia tempatnya salah dan dosa. Hal ini berlaku pula saat kita melakukan keputusan keuangan seperti:

Membeli sesuatu
Mengajukan utang
Menabung uang
Dalam membeli sesuatu, sangat mungkin bagi kita untuk melakukan keputusan yang tidak bijak dan kurang tepat, seperti:

Membeli barang hanya karena barang tersebut dikenakan diskon yang cukup tinggi
Membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dalam waktu dekat hanya karena cashback
Membeli barang dengan harga yang tinggi walaupun kita bisa mendapatkannya dengan harga yang relatif lebih rendah di tempat lain
Membeli barang demi menjaga hubungan pertemanan dan relasi
Hayoo ngaku, siapa yang pernah melakukan keputusan di atas secara tidak sadar?

hihihi

Dengan menyimpan kartu debit dan kartu kredit dalam tempat yang sulit dijangkau dan dilihat oleh mata, niscaya kita perlu mengeluarkan effort lebih hanya untuk menemukan Kartu Debit dan Kartu Kredit tersebut sebelum kita membelanjakannya secara gelap mata dan tak sadarkan diri.

Posting Komentar untuk "Cara Mengurangi Pengeluaran Melalui Rasa Sakit"